PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep, Membangun Ekosistem Pengembangan Kompetensi Guru di Era AI

Table of Contents

 


SUMENEP — Transformasi digital dalam pendidikan tidak cukup dimaknai sebagai pemindahan aktivitas pembelajaran dari ruang fisik menuju ruang digital. Lebih dari itu, transformasi membutuhkan perubahan kapasitas guru dalam merancang pengalaman belajar, mengembangkan sumber belajar, serta memanfaatkan teknologi secara pedagogis dan bertanggung jawab.




Semangat itulah yang tampak dalam pelaksanaan PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep, sebuah workshop peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan selama dua hari, Jumat–Sabtu, 11–12 September 2026. Kegiatan ini dirancang dengan pola blended learning, yakni sesi pertama dilaksanakan secara daring dan sesi kedua secara luring.

Dokumen resmi panitia mencatat bahwa kegiatan PGRI POWER Kec. Kota Sumenep merupakan bagian dari rangkaian penguatan kompetensi guru dalam bidang Artificial Intelligence (AI), coding, computational thinking, dan inovasi pembelajaran digital untuk mendukung transformasi pendidikan di era teknologi.


Hari pertama, Jumat, 11 September 2026, dilaksanakan secara daring. Kegiatan ini di awali dengan sambutan dari kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumen, Kemudian pada sesi berikutnya, Ngumpriatun, M.Pd. hadir sebagai pemateri. 




Pola daring yang digunakan pada hari pertama juga menunjukkan bahwa pengembangan profesional guru mulai bergerak menuju model pembelajaran yang lebih fleksibel. Guru dapat memperoleh wawasan dan penguatan konseptual tanpa harus meninggalkan ruang kerja dan satuan pendidikannya.

Kemudian, Sabtu, 12 September 2026, kegiatan dilanjutkan secara luring di Graha Kemahasiswaan Kampus UPI Sumenep. Sesi ini diarahkan pada aspek yang lebih aplikatif, mulai dari pengenalan aplikasi AI untuk kegiatan pembelajaran hingga praktik pembuatan media pembelajaran dan modul ajar berbasis AI.



Menariknya, PGRI POWER tidak menempatkan AI hanya sebagai tren teknologi. AI diperkenalkan dalam konteks yang lebih substantif, yaitu bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat proses pedagogis.

Guru tidak hanya dituntut mengetahui apa itu AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kapan AI digunakan, untuk tujuan apa, bagaimana hasilnya divalidasi, serta bagaimana penggunaannya tetap berpijak pada kebutuhan peserta didik.





Dalam konteks inilah workshop pembuatan media pembelajaran dan modul ajar berbasis AI menjadi relevan. Teknologi dapat mempercepat proses produksi bahan pembelajaran, tetapi kualitas produk tetap membutuhkan pertimbangan profesional guru.

Dengan demikian, kompetensi digital guru tidak berhenti pada kemampuan operasional menggunakan aplikasi. Kompetensi tersebut perlu terintegrasi dengan kompetensi pedagogik, kreativitas, literasi informasi, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman terhadap karakteristik peserta didik.

Di balik terselenggaranya kegiatan selama dua hari tersebut, terdapat sosok Hudi Susila, S.Pd., Ketua PGRI Kecamatan Kota Sumenep, yang layak mendapatkan apresiasi atas ikhtiar membangun ruang pengembangan kompetensi guru secara terstruktur.

Kepemimpinan dalam organisasi profesi tidak semata-mata diukur dari kemampuan menjalankan agenda administratif. Organisasi profesi akan memiliki daya ungkit yang lebih besar ketika mampu menjadi ruang belajar kolektif bagi anggotanya.

Dalam konteks tersebut, PGRI POWER menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana organisasi profesi dapat mengambil peran dalam merespons perubahan ekosistem pendidikan.

Hudi Susila tidak hanya mengarahkan PGRI Kecamatan Kota pada kegiatan internal organisasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Jejaring kemitraan yang dibangun dengan sejumlah lembaga, termasuk BPRS, menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan dan sumber daya bagi pengembangan program.

Kolaborasi semacam ini penting karena tantangan pendidikan pada era digital semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi secara sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi antara organisasi profesi, satuan pendidikan, pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, PGRI tidak hanya hadir sebagai organisasi yang menaungi profesi guru, tetapi juga dapat berkembang menjadi simpul kolaborasi pendidikan.

PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep memperlihatkan satu hal penting: peningkatan kompetensi guru seharusnya tidak berhenti pada kegiatan pelatihan yang selesai ketika sertifikat diterima.

Dalam desain kegiatan tanggal 12 September, peserta tidak hanya memperoleh materi. Mereka mengikuti praktik pembuatan media pembelajaran dan modul ajar berbasis AI, kemudian mempresentasikan hasil kerja dan melakukan refleksi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Struktur tersebut memiliki makna penting secara pedagogis. Ada siklus belajar–mencoba–menghasilkan–merefleksikan–menindaklanjuti.

Siklus inilah yang semestinya menjadi ruh pengembangan profesional guru. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan harus memiliki peluang untuk ditransformasikan menjadi praktik nyata di ruang kelas.

Dengan kata lain, keberhasilan PGRI POWER tidak semata-mata dilihat dari seberapa banyak peserta yang mengikuti kegiatan, tetapi dari seberapa jauh kompetensi yang diperoleh mampu bermuara pada perubahan praktik pembelajaran.


PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep memberikan gambaran bahwa organisasi profesi dapat memainkan peran strategis dalam menghadapi perubahan teknologi pendidikan.

Guru membutuhkan ruang untuk belajar secara berkelanjutan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bereksperimen, berbagi pengalaman, mendapatkan umpan balik, dan membangun jejaring profesional.

Di sinilah organisasi profesi memiliki posisi strategis.

Melalui kepemimpinan Hudi Susila beserta jajaran pengurus dan panitia, PGRI Kecamatan Kota Sumenep berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diarahkan pada penguatan kapasitas profesional guru.

Kolaborasi dengan berbagai mitra juga menjadi modal sosial yang penting untuk memastikan bahwa gerakan peningkatan kompetensi guru tidak berjalan secara eksklusif di lingkungan organisasi, tetapi mampu membuka konektivitas dengan berbagai unsur di luar organisasi.


Perkembangan AI akan terus bergerak. Aplikasi dapat berubah, platform dapat berganti, dan teknologi baru akan terus bermunculan. Karena itu, guru tidak cukup hanya dibekali keterampilan menggunakan satu aplikasi tertentu.

Yang jauh lebih penting adalah membangun kapasitas belajar yang berkelanjutan.

PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep melalui workshop dua hari ini mencoba membangun fondasi tersebut: guru diperkenalkan pada arah digitalisasi pendidikan, kemudian diarahkan menuju praktik pemanfaatan AI untuk media pembelajaran dan modul ajar, dilanjutkan dengan presentasi, refleksi, dan rencana tindak lanjut.

Dari sini terlihat bahwa transformasi pendidikan sesungguhnya bukan hanya persoalan teknologi. Transformasi pendidikan adalah persoalan manusia yang terus belajar dan beradaptasi.

Dan ketika organisasi profesi mampu menciptakan ruang bagi guru untuk terus belajar, maka organisasi tersebut tidak hanya menjalankan program—tetapi sedang membangun ekosistem profesional yang memiliki daya tahan terhadap perubahan zaman.

PGRI POWER Kecamatan Kota Sumenep menjadi salah satu ikhtiar ke arah tersebut: mempertemukan organisasi, guru, teknologi, dan jejaring kemitraan dalam satu gerakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran.(@Rs)

Posting Komentar